Benarkah? FULL DAY SCHOOL (FDS) Tidak Sesuai di Indonesia ..

Kegiaatan Belajar Mengajar yang dilakukan dari jam 06.45 hingga 15.00, Merupakan Program yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy,  putuskan tersebut diambil berdasarkan hasil rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Joko Widodo pada 3 Februari 2016.

FDS bukan pertama kali ada di Indonesia, Full Day School (FDS) sendiri sudah ada sejak awal tahun delapan puluhan di Amerika Serikat. Ketika itu (FDS) hanya diberlakukan untuk tingkat sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) kamudian meluas pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi mulai dari SD hingga menengah atas.

NU MENOLAK FDS

Pesantren yang Memiliki Pendidikan Formal dan Merupakan Lembaga Pendidikan Agama, bahkan menerapkan sistem pendidikan (mengaji) hingga malam, dengan berlakunya FDS di anggap Penerapan tersebut akan menggusur madrasah diniyah yang dibangun oleh masyarakat, yang honor gurunya juga dari masyarakat.

Meskipun FDS tidak diwajibkan diterapkan bagi lembaga pendidikan, seperti kebijakan yang sudah di katakan Bapak Joko Widodo pada akun resmi Facebook President Joko Widodo:
"Tak perlu risau soal wacana lima hari sekolah (full day school).
Yang selama ini bersekolah enam hari dalam seminggu, silakan lanjutkan. Tidak perlu berubah sampai lima hari.
Begitu juga yang sudah menerapkan lima hari sekolah. Kalau memang diinginkan oleh semua pihak, diinginkan masyarakat dan ulama, ya silakan.
Untuk kedua kalinya saya tegaskan.."
Namun masih banyak Lembaga-lembaga yang melakukan aksi-aksi demo untuk menolak Program Belajar Full Day School.

Penolakan FDS lewat aksi demo yang diduga dilakukan pelajar madrasah dan pesantren yang viral di media sosial, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah Selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur Menanggapi hal tersebut dan mengaku heran dengan penolakan yang dilakukan dengan demo-demo, harusnya apabila ada perbedaan harus diselesaikan dengan musyarawah. Demo itu dinilai tidak menyelesaikan masalah, terlebih dengan melontarkan kata umpatan kebencian. "tututnya".

Pernyataan Penolakan Full Day School (FDS)

Kebijakan Lima hari Sekolah atau disebut dengan  FDS, memang mendapatkan berbagai penolakan di berbagai daerah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya dan diikuti Ribuan masa yang mayoritas santri yang menyampaikan lima tuntutan di depan Kantor Bupati Tasikmalaya. 

1. Menolak memberlakukan lima hari sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena tidak sesuai dengan keragaman dan kondisi geografis dan sosiologis masyarakat Indonesia.

2. Meminta Pemerintah Pusat untuk nencabut Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 yang mendasari kebijakan lima hari sekolah.

3. Meminta Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk membatalkan rencana tambahan jam pelajaran di tingkat sekolah SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

4. Meminta komponen bangsa khususnya pemegang kuasa publik untuk senantiasa menjaga stabilitas bangsa dengan menjauhkan diri dari kontroversi yang tidak semestinya.

5. Mendorong seluruh masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk tetap menjaga ketenangan dan ketentraman di tengah kontroversi besar yang ditimbulkan oleh kebijakan Kemendikbud dengan tetap berkarya dan berkinerja baik dalam penyelenggaraan pendidikan.

________________________

0 komentar: