Mengenang Detik Proklamasi! Rokok Dimatikan, Berhenti Aktifitas. Kisah Syekh Abdul Malik

Mengenang Detik Proklamasi! Rokok Dimatikan, Berhenti Aktifitas. Kisah Syekh Abdul Malik 


Mengenang Detik Proklamasi! Rokok Dimatikan, Berhenti Aktifitas. Kisah Syekh Abdul Malik
Syekh Abdul Malik bin Ilyas
(google image)
Citangkolo.Net INDONESIA sejak dibacakan Teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno tahun 1945 hingga kini sudah mencapai usia 72 Tahun. Dengan usia kemerdekaan yang sudah cukup umur Seyogyanya kita mensyukuri momen Tahunan ini. Negara yang merupakan  palau-pulau Terbanyak  Dunia dan Sangat kaya raya akan kekayaan alam, Wajar apabila banyak negara lain yang pingin menjajah.

Tercatat dalam sejarah, Indonesia Sudah dijajah Oleh 6 Negara dengan jangka waktu sangat panjang. 
Portugis menjajah wilayah Indonesia , Maluku dari 1509 sampai 1595. Spanyol Menjajah Indonesia, Sulawesi dari tahun 1521 hingga 1692. Belanda Merupakan penjajah dengan kurun waktu yang sangat panjang dari tahun 1602 hingga 1942 ke suluruh bagian nusantara, dan sempat kembali pada tahun 1945. Prancis dari tahun 1806 sampai tahun 1811 Penjajah ini menguasai Jawa. Inggris dari tahun 1811-1816, Sedangkan Jepang menjajah indonesia sejak 1942 - 1945

610 tahun lamanya Wilayah berpulau-pulau dengan bermacam budaya, adat, Agama dan suku terjajah, dan sudah memakan jutaan korban jiwa demi merebut kambali hak pribumi. Prokalasi Kemerdekaan yang dilantunkan pada tahun 45 telah menghentikan penjajahan tanpa merubah menghilangkan suku, budaya, agama dan adat dalam satu Kedaulatan Bineka Tunggal ika atau NKRI.

Para pahlawan , Suhada, dengan iklas mereka memberikan nyawanya, meninggalkan keluarga hingga darah penghabisan demi bumi pertiwi. Nah.... bagaimana pendapat anda, Apabila tiba-tiba ada yang mau merusak keutuhan NKRI yang sudah di bangun dengan waktu sangat Panjang dan Pengorbanan yang luar biasa. ?

Kisah Nyata, Syekh Abdul Malik bin Ilyas, dan merupakan seorang Mursyid Thariqah Syadziliyah.
Beliau memiliki Jiwa yang Nasionalis,dan beliau Juga punya cara tersendiri dalam mengenang jasa pahlawan yang telah gugur demi Kemerdekaan RI
Kisah ini diceritakan oleh murid Syekh Abdul Malik, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Yahya, dalam sebuah pengajian.

Ketika itu Syekh Abdul Malik mengajak Habib Lutfi jalan-jalan, Di tengah perjalanan di antara daerah Bantarbolang-Randudongkal, Syekh Abdul Malik tiba-tiba menyuruh supirnya untuk menghentikan perjalanannya. 

“Pak Yuti, berhenti dulu,” dawuh Syekh Abdul malik pada supirnya.
"njih mbah"... sahut Suyuti.
"cari tempat yang sejuk saja, biar enak gelaran" Kata Syekh Malik.
Setelah mendapat tempat yang sejuk, tikar digelar dan termos juga dikeluarkan. Syekh Malik mengeluarkan rokok khasnya, klembak menyan, kemudian diraciknya sendiri sebelum dinikmati Sesekali dia mengeluarkan jam dari kantongnya, sembari berkata,
" Bentar lagi"
Ketika itu sekitar pukul 09.45 WIB. Setelah mendapat tempat untuk beristirahat. Setelah pukul 09.50 WIB, rokok yang belum habis tadi tiba-tiba dimatikan. Kemudian berkata,
”Ayo Pak Yuti, Habib mriki (ke sini)!”
Syekh Malik memberikan hadiah Fatihah untuk Kanjeng Nabi, Sahabat dan seterusnya sampai disebutkan pula sejumlah nama pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, Kiai Mojo, Jenderal Sudirman dan lain sebagainya.
Saat tepat pukul 10.00 WIB, Syekh Malik terdiam beberapa saat dilanjutkan dengan doa "Allahummaghfirlahum warhamhum"..
Ketika Sudai usai, Habib Lutfi Penasaran dengan apa yang dilakukan gurunya, kemudian Habib bertanya pada Syekh Malik,
“Mbah, wonten napa ta (ada apa)?”
“Anu, napa niki jam 10, niku napa namine, Pak Karno Pak Hatta rumiyin moco napa (pukul 10 dulu Pak Karno Pak Hatta dulu membaca apa) ?” Sahut tanya Syekh Malik.
" Proklamasi ,Mbah,." Jawab Habib Lutfi.
“Ya niku lah, kita niku madep ngormati (ya itulah kita berhenti sejenak menghormati),” jawab Syekh Malik.

Syekh Abdul Malik, Meskipun  dengan segala keadaan yang terbatas di tengah hutan dan cara yang sederhana, tapi tetap memberikan perhatian tersendiri akan momentum detik-detik proklamasi, yang biasa diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

“Sampai begitu mereka, kita ini belum ada apa-apanya, makanya sampai sekarang saya etok-etoke meniru, setiap tanggal 17 Agustus kita baca Al Fatihah. Sebagai Wujud Rasa mencintai dan memiliki. Tanamkan kepada anak-anak kita!” tegas Habib Luthfi mengakhiri kisahnya.( Percakapan kutip dari . Nu.or.id)

Jadi, Sikap bagaimana yang anda lakukan ? 
Saat ini kita semua  menikmati Hasil jerih payah, Pengorbanan Besar mereka sebagai pahlawan, Apakah anda ikut dalam Upacara, Atau hal lain yang berbeda. 
Tentunya apapun  itu, Kita harus menghargai Pahlawan yang telah gugur demi mencapai Kemerdekaa RI. dan yang  paling penting HARUS MENJAGA KEUTUHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA , jangan menjadi Penjajah yang Numpang di atas kemerdekaan.
Jangan Lupa Tanggal 17 Besok Untuk ikut Upacara atau Setidaknya Baca doa untuk Arwah para Pahlawan , dan Negara ini supaya lebih baik, Maju, Damai. 
Jangan Hanya menjadi penikmat Kemerdekaan Tanpa ada Kontribusi apapun, malah Mau ngutak-ngatik Konsep yang memang sudah dipikir matang serta tanpa harus ada korban. 
_________

0 komentar: