APA AKIBAT BERHUBUNGAN SEKS SAAT HAID dan HUKUMNYA

APA AKIBAT BERHUBUNGAN SEKS SAAT HAID dan ONANI
SAAT HAID MELAKUKAN SEKS
Pengertian Haid atau Menstruasi  secara umum, dapat diartikan dengan istilah datang bulan atau proses perubahan fisiologi pada perempuan yang dipengaruhi hormon reproduksi secara berkala. Datang bulan biasa terjadi pada wanita yang mulai remaja dengan batas akhir sampai monopause, hal ini secara umum  dikatakan dengan saat aktif reproduksi pada wanita.  Haid datang kisaran 28 hari namun siklus ini tidak sama pada semua wanita, kadang datang bulan pada wanita ada yang setelah 3 minggu atau genap satu bulan.  Hal ini secara umum terjadi selama 2 hari,7 hari atau paling lama selama dua minggu.
Pengertian haid dalam Agama, Darah yang keluar dari rahim bukan karena penyakit atau persalinan, darah yang keluar merupakan hal yang sudah ditetapkan Tuhan pada wanita, dan merupakan hal normal yang secara umum kerap terjadi pada wanita .Datang Bulan di tandai dengan ketika keluar didahului dengan lendir kuning kecoklatan, namun ada pula yang langsung berupa darah merah yang kental dan tanda selesainya  haid  dengan adanya gumpalan,lendir putih yang keluar dari  rahim, jika tidak menjumpai adanya lendir putih ini, bisa dengan mengeceknya memakai kapas putih yang dimasukkan ke dalam vagina. Jika kapas  tidak ada bercak sekecil apapun atau sampai benar-benar bersih.
Allah Ta’ala berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Lebih banyak manfaat atau Resiko melakukan seks saat haid?

Penjelasan Dari Segi Medis Seks Ketika Haid
Dalam keadaan sedang  haid berhubungan seks memiliki beberapa manfaat. Meringankan sakit akibat  (PMS) premenstrual syndrome  dan ketika orgasme dapat mengurangi rasa sakit yang seperti kram dan melepaskan hormon yang bisa membuat seseorang merasa senang (Endorfin) sehingga bisa meredakan depresi. Selain itu Melakukan seks ketika menstruasi  dapat memberi kepuasan yang lebih karena perubahan hormon pada saat sedang haid  membuat  merasa lebih bergairah.
Selain manfaat melkukan seks ketika haid namun ada pula risiko jika melakukan saat menstruasi. Seks saat haid akan berisiko terkena infeksi atau tertular penyakit dibandingkan melakukan hubungan seks tidak dalam sedang menstruasi. Ketika menstruasi kondisi leher rahim akan terbuka serta memudahkan darah untuk masuk ke dalam dan bakteri untuk menuju rongga panggul. Selain itu juga lebih mungkin untuk penularan t HIV dan hepatitis ke pasangan  karena lebih banyak cairan tubuh/darah, dan kadar potential Hydrogen (pH) pada pintu rahim  lebih rendah, maka tingkat keasamannya akan berkurang lebih mungkin untuk infeksi jamur atau bakteri. Seks saat haid memang resiko untuk hamil kecil namun tetap ada, ketika berhubungan tanpa kontrasepsi.

Melukukan hubungan seks saat menstruasi lebih baik jangan dilakukan karena ketika haid merupakan proses terjadinya pelepasan lapisan dalam dinding rahim, proses ini disertai keluarnya 35 ml darah dan 35 ml cairan serosa, ini menandakan adanya pembuluh darah yang terbuka, gerakan penis ketika penetrasi ke vagina dapat memicu masuknya gelembung udara ke pembuluh darah dan dikhawatirkan  terjadinya gelmbung udara yang masuk dan terbawa aliran darah (Emboli) . Jika gelembung udara menyumbat pembuluh darah pada sekitar jantung maka akan berakibat fatal.

Melakukan seks pada saat dua hari pertama ketika menstruasi akan sering menyebabkan kram perut. Melakukan Seks saat haid dapat sangat menyakitkan karena sistem reproduksi sedang lemah.

Seks ketika Haid ditinjau dari segi Agama
Anas bin Malik menceritakan,
أن اليهود كانوا إذا حاضت المرأة فيهم لم يؤاكلوها ولم يجامعوهن في البيوت فسأل الصحابة النبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى : ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض…
Sesungguhnya orang yahudi, ketika istri mereka mengalami haid, mereka tidak mau makan bersama istrinya dan tidak mau tinggal bersama istrinya dalam satu rumah. Para sahabatpun bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian Allah menurunkan ayat,
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dalam Islam, tidak menghukumi fisik wanita haid sebagai benda najis yang selayaknya dijauhi, seperti halnya k yang dilakukan orang yahudi. Dengan turunnya ayat tersebut suami masih bisa melakukan apapun saat istri haid, kecuali yang Allah larang dalam Al-quran, yaitu melakukan hubungan intim/ijma.

Beberapa Pengertian Intim ketika haid

1.Pengertian dalam bentuk Perlakuan bermesraan dan bercumbu selain pada daerah antara pusar sampai lutut istri. Sepakat ulama Perlakuan semacam ini hukumnya halal . A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حِضْتُ يَأْمُرُنِي أَنْ أَتَّزِرَ، ثُمَّ يُبَاشِرُنِي
Apabila saya haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk memakai sarung kemudian beliau bercumbu denganku. (Hadits Riwayat Ahmad , Turmudzi  dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Pengertian sama juga disampaikan oleh Maimunah radhiyallahu ‘anha,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercumbu dengan istrinya di daerah di atas sarung, ketika mereka sedang haid. (Riwayat Muslim )

2. Pengertian dalam bentuk bermesraan dan bercumbu di semua tubuh istri selain hubungan intim dan anal seks. Pengertian perlakukan semacam ini diperselisihkan ulama.
* Imam Abu Hanifah, Malik, dan As-Syafii berpendapat bahwa perlakuan semacam ini dihukumi haram. Dalil mereka adalah praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keterangan A’isyah dan Maimunah.
* Imam Ahmad, dan beberapa ulama hanafiyah, malikiyah dan syafiiyah berpendapat bahwa itu dibolehkan. Pendapat inilah yang dikuatkan An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (3/205).
Dalil yang mendukung pendapat bentuk bermesraan dan bercumbu di semua tubuh istri selain hubungan intim dan anal seks
Firman Allah
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari Al-Mahidh..”
Ibn Utsaimin mengatakan, Makna Al-Mahidh mencakup masa haid atau tempat keluarnya haid. Dan tempat keluarnya haid adalah kamaluan. Selama masa haid, melakukan hubungan intim hukumnya haram. (As-Syarhul Mumthi’)
Ibn Qudamah berkata:
فتخصيصه موضع الدم بالاعتزال دليل على إباحته فيما عداه
Ketika Allah hanya memerintahkan untuk menjauhi tempat keluarnya darah, ini dalil bahwa selain itu, hukumnya boleh. (Al-Mughni)
Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ketika para sahabat menanyakan tentang istri mereka pada saat haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ
“Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian) kecuali nikah.” (HR. Muslim).
Ketika menjelaskan hadis ini, At-Thibi mengatakan,
إِنَّ الْمُرَادَ بِالنِّكَاحِ الْجِمَاعُ
“Makna kata ‘nikah’ dalam hadis tersebut adalah hubungan intim.” (Aunul ma’bud)
Hal ini pengertian Hubungan intim disebut dengan nikah, karena nikah merupakan sebab utama dihalalkannya hubungan intim.
Disebutkan dalam riwayat lain, bahwa terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan praktek yang berbeda seperti di atas.
Diriwayatkan dari Ikrimah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد من الحائض شيئا ألقى على فرجها ثوبا
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak melakukan hubungan intim dengan istrinya yang sedang haid, beliau menyuruhnya untuk memasang pembalut ke kemaluan istrinya.” (HR. Abu Daud dan Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan: Sanadnya kuat).

3. Pengertian dalam bentuk hubungan intim ketika haid. Perlakuan ini haram dengan sepakat ulama, berdasarkan firman Allah, dalam QS. Al-Baqarahayat 222. Orang yang melanggar larangan ini, wajib bertaubat kepada Allah, dan membayar kaffarah, berupa sedekah satu atau setengah dinar.
Beberapa pendapat para ulama tentang masalah kaffarah:
*Ada perbedaan jumlah kafarrah jika jima’ dilakukan diawal atau akhir waktu haidh, Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu secara mauquf,ia berkata: “Jika ia bercampur dengan isterinya diawal keluarnya darah maka hendaklah bershadaqah 1 dinar dan jika di akhir keluarnya darah maka setengah dinar”. (Abu Daud  dan “Aunul Ma’bud ) Pendapat inilah yang diambil oleh madzab Imam Syafii

*Menurut Imam Ahmad bahwa jika darah haid berwarna merah maka ukurannya adalah 1 dinar dan jika berwarna kuning maka ukurannya setengah dinar.(Ma’alim Sunan karya Al Khithabi).

*Menurut syaikh Albani rahimahullah, kafarah dibayarkan sesuai dengan kemampuan orangnya.
Catatan tambahan: 1 dinar = 4,25 gr emas, adapun nilai dinar disesuaikan dengan mata uang setempat.

Apakah Istri juga kena Kaffarah? Jika isteri melayaninya dengan sukarela maka ia harus membayar kaffarah, tetapi jika ia melakukan karena paksaan maka ia tidak harus membayar tebusan berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:
“Umatku dimaafkan karena salah,lupa dan apa-apa yang dipaksakan atasnya.”
(Az-zakah wa Tathbiqatihan )

Bagaimana dengan Onani?
Apa itu Onani, Merupakan perangsangan seksualitas yang sengaja dilakukan pada area organ kelamin  untuk  mencapai kenikmatan dan kepuasan seks dapat dilakukan tanpa alat bantu ataupun menggunakan  alat objek .
Dalam Mazhab Hanafi, Syafi'i, Maliki dan Hambali  Melarang apabila misalnya pria atau wanita melakukan onani / mastusbasi untuk mengabaikan pasangan yang syah. Dan  dianjurkan ketika dilihat sebagai kejahatan lebih rendah daripada hubungan seksual terlarang. Hal ini umumnya dilarang menurut mazhab Hanafi dan Hambali, kecuali salah satu ketakutan perselingkuhan atau perzinaan. Jika berada di bawah tekanan keinginan, dalam hal ini diperbolehkan untuk mencari bantuan melalui masturbasi. Hal ini dilarang sepanjang waktu menurut mazhab Maliki dan Syafi'i.

Memahami hal ini, Jika sebagai suami tidak perlu galau ketika istri haid. Dan jangan melakukan hal itu tanpa bantuan tubuh istri.
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ . فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
Orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukminun. 5 )
Sifat mukminin yang beruntung adalah orang yang selalu menjaga kemaluannya dan tidak menyalurkannya, selain kepada istri dan budak wanita. Selama suami menggunakan tubuh istri untuk mencapai klimaks , maka tidak dinilai tercela. Berbeda dengan  yang mencari selain itu apalagi berzina dengan orang lain.

Referensi:
konsultasisyariah.com
fiqihwanita.com
walimah.info
id.wikipedia.org
doktersehat.com
alodokter.com

0 komentar: